Browser Anda tidak mendukung Javascript, pastikan enable javascript browser Anda.
Kompetensi Lulusan
Yang Kompetitif
Lokal Maupun Global

Informasi Penerimaan Peserta Didik Baru... Oleh widodo: bagaimana proses penerimaan PPDB tahun ini ?

Blog siswa/siswi SMPN 41 Jakarta Oleh Kira:

quote (charissa 7destination):

blog gue banyak.... 1. charissanabilla.blogspot.com 2. charissaj-popers.blogspot.com 3. charissaotaku.blogspot.com 4. charissacomate.blogspot.com


Awesome... wink


Blog siswa/siswi SMPN 41 Jakarta Oleh charissa 7destination: blog gue banyak....
1. charissanabilla.blogspot.com
2. charissaj-popers.blogspot.com
3. charissaotaku.blogspot.com
4. charissacomate.blogspot.com


Laporan Keuangan Pembangunan Masjid... Oleh tak di kenal: semoga pembangunan berhasil. up

Laporan Keuangan Pembangunan Masjid... Oleh monza: up Semoga masjidnya cepat jadi dan semoga para donatur dilipatkan pahalanya... Amin


<<     Mei 2012     >>
Min
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
  
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
  



Berita


Sekolah Perlu Contohkan Multikultural

07 Mar 2011 oleh Tim Berita | dilihat: 121 kali | 1 komentar

JAKARTA - Sekolah dan kelas semestinya jadi tempat anak-anak belajar berbaur, berbagi, dan menghormati anak-anak lainnya sebagai upaya membangun masyarakat multikultural. Untuk itu, sekolah janganlah elitis dan menguatkan pembagian kelas sosial, tetapi perlu mendorong pendidikan inklusif.

Sekolah di abad ke-21 perlu membekali siswa dengan keterampilan yang sangat vital, yakni hidup dalam masyarakat multikultural yang jadi modal untuk mampu hidup damai dengan orang lain. Karena itu, kesadaran perbedaan agama, suku, bahasa, dan ras seharusnya tidak dibuang dari kelas. Sebaliknya, perbedaan justru harus diakui dan dirayakan.

Pendidikan damai dalam masyarakat multikultural menjadi perhatian UNESCO dalam merespons masih berkecamuknya konflik dan perang di berbagai belahan dunia. Pendidikan di sekolah dan kelas diyakini bisa jadi contoh terdepan untuk menunjukkan sikap toleransi, saling menghormati, dan hidup damai dengan orang lain.

Dirjen UNESCO Irina Bokova mengatakan, suatu negara tidak dapat menciptakan dasar-dasar abadi untuk perdamaian kecuali jika menemukan cara-cara untuk membangun kepercayaan yang saling menguntungkan antarwarganya. ”Tempat untuk memulainya, yakni di dalam ruang kelas,” kata Bokova.

Pendidikan mestinya berpotensi sebagai kekuatan untuk mendorong perdamaian. Namun, masih banyak praktik pendidikan yang keliru. Sekolah justru digunakan untuk menguatkan pembagian kelas sosial, intoleransi, dan prasangka yang mendorong pada perang.

Pengamat pendidikan, Darmaningtyas, di Jakarta, Minggu (6/3/2011), mengatakan, pendidikan yang sebaiknya dikembangkan adalah yang inklusif. Namun, di Indonesia, pembagian sekolah-sekolah mulai dari sekolah reguler, sekolah standar nasional, sekolah mandiri/unggulan, hingga rintisan sekolah bertaraf indernasional (RSBI/SBI) justru menegaskan pembagian kelas sosial masyarakat.

”Siswa miskin dan kaya di negeri ini mendapatkan layanan dan akses pendidikan yang dibeda-bedakan. Kondisi ini dapat memicu gesekan sosial karena ketidakadilan dan kecemburuan sosial,” kata Darmaningtyas.

Jika anak-anak muda sulit mengakses pendidikan dasar berkualitas, mereka bisa terjerumus dalam kemiskinan, pengangguran, dan putus asa sehingga mudah direkrut untuk konflik. Pendidikan yang tidak sama berinteraksi dengan kesenjangan yang lebar bisa mempertinggi konflik.

Sistem pendidikan yang tidak membekali anak muda dengan keahlian untuk keluar dari kemiskinan, pengangguran, dan kemerosotan ekonomi sering memicu konflik kekerasan.

Pengamat pendidikan, HAR Tilaar, mengatakan, masyarakat multikultural mestinya tidak asing di Indonesia. Justru negara ini bisa jadi contoh bangsa yang menerima perbedaan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ikanya. ”Tapi masalahnya semangat itu semakin hilang dari masyarakat, termasuk generasi muda sekarang. Kita harus bisa membangkitkannya kembali sebagai kekuatan bangsa ini,” ujar Tilaar.

UNESCO menyerukan supaya semua bangsa tidak mengunci potensi pendidikan untuk bertindak sebagai kekuatan perdamaian. Perlu dibentuk masyarakat yang secara mendasar punya sikap toleran, saling menghargai, dan berkomitmen untuk berdialog. Sikap-sikap ini seharusnya secara aktif ditumbuhkan di kelas-kelas setiap hari di seluruh dunia. Jangan menggunakan sekolah untuk jadi kendaraan mengembangkan kefanatikan, sikap patriotik yang berlebihan (chauvinism), dan tidak menghargai orang lain. Hal itu tidak boleh terjadi di pendidikan.


Sumber: Kompas.com, Oleh: Ester Lince Napitupulu

 





Komentar oleh Sajiwito, 02 Apr 2011, 04:26 pm
memang benar rasa toleransi dan keragaman harus dipulihkan kembali, supaya Indonesia tetap jaya dan makin maju

Nama:
E-mail: (will not shown)
Smile: smile wink confused embarrassed tongue omg laughing sad angry cry ugly shade innocent devil email phone cake up 


Masukkan/Tulis angka/huruf berikut :
Security Image   


Berita Lainnya

Informasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP Negeri di DKI Jakarta (SMP Negeri 41 Jakarta) Th. Pelajaran 2012 - 2013 -- 11 Apr 2012 | dilihat: 458 kali | 1 komentar
Laporan Keuangan Pembangunan Masjid Al-Hikmah Periode Maret 2012 -- 11 Apr 2012 | dilihat: 70 kali | 0 komentar
Galeri Proses Pembangunan Masjid SMP Negeri 41 Jakarta -- 21 Mar 2012 | dilihat: 76 kali | 0 komentar
Sertifikasi Guru, Haruskah? -- 06 Mar 2012 | dilihat: 96 kali | 0 komentar
Tepatkah Pilihan Studi ke Luar Negeri? -- 06 Mar 2012 | dilihat: 85 kali | 0 komentar
Laporan Keuangan Pembangunan Masjid Al-Hikmah SMPN 41 Periode Januari 2012 -- 11 Feb 2012 | dilihat: 290 kali | 2 komentar
Budaya Menanam Masuk Kurikulum Sekolah -- 08 Feb 2012 | dilihat: 120 kali | 0 komentar
Tak Ada Cerita Sekolah Bagus Itu Murah -- 08 Feb 2012 | dilihat: 198 kali | 0 komentar
2013 Tak Ada Lagi Sekolah Rusak -- 30 Jan 2012 | dilihat: 137 kali | 0 komentar
Kemdikbud Segera Petakan Anggaran Pendidikan Provinsi -- 30 Jan 2012 | dilihat: 123 kali | 0 komentar

Sebelumnya ( 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 ) Selanjutnya

Majalah Dinding

Usus Buntu Menyelamatkan Hidup Manusia -- 06 Mar 2012 | dilihat: 73 kali | 0 komentar
4 Aktivitas Bikin Otak Tetap Tokcer -- 06 Mar 2012 | dilihat: 73 kali | 0 komentar
Lapisan Es Tertua di Laut Artik Menghilang Cepat -- 06 Mar 2012 | dilihat: 67 kali | 0 komentar
Gen Khusus Perlambat Penuaan Lalat -- 08 Feb 2012 | dilihat: 94 kali | 0 komentar
Di Antara 4 Gaya Ini, Mana Gaya Belajar Anda? -- 30 Jan 2012 | dilihat: 102 kali | 0 komentar
Sulit Belajar? Ini Solusinya! -- 30 Jan 2012 | dilihat: 105 kali | 0 komentar
Wah! Asap Cair untuk Pengawet Makanan -- 23 Jul 2011 | dilihat: 127 kali | 0 komentar
Inilah Ekskul Paling Unik di Amerika Serikat -- 23 Jul 2011 | dilihat: 105 kali | 0 komentar
6 Pelajar Indonesia Pamer Riset di AS -- 12 May 2011 | dilihat: 113 kali | 0 komentar
230 Juta Hektar Area Hutan Terancam Hilang Pada 2050 -- 28 Apr 2011 | dilihat: 113 kali | 0 komentar

Sebelumnya ( 1 2 3 4 5 6 ) Selanjutnya